MAKALAH
SOSBUD
Disunsun
Oleh : MOHAMMAD PEBRIANTO
NIM : 150751600312
PROD/OFF :
PENDIDIKAN SOSIOLOGI / A
UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
PENDIDIKAN
SOSIOLOGI
MALANG
MALANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadiran Allah Subhanahu wa Ta’alayang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
pada waktunya. Walaupun hasilnya masih jauh dari apa yang menjadi harapan Bapak
Dosen, namun sebagai awal pembelajaran dan agar menambah semangat dalam mencari
pengetahuan yang luas dilapangan, bukan sebuah kesalahan jika kami
mengucapkan kata syukur.
Terima
kasih kami ucapkan kepada dosen Pengantar Sosiologi yang telah memberikan
arahan terkait makalah ini. Tanpa bimbingan dari beliau mungkin kami tidak akan
dapat menyelesaikan tugas ini sesuai dengan format yang berlaku. Kesalahan yang
terdapat di dalam jelas ada. Namun bukanlah kesalahan yang tersengaja melainkan
karena kekhilafan. Dari semua kelemahan kami kira-nya dapat dimaklumi.Sehingga
ini juga menjadi pembelajaran bagi kami untuk mengerjakan tugas-tugas
selanjutnya.
Terima kasih kami ucapkan pula
kepada teman-teman yang telah memberikan banyak saran dan pengetahuannya
sehingga menambah hal baru bagi kami. Terutama dalam hal materil berupa referensi
mengenai pengaruh bahasa gaul terhadap norma dalam masyarakat.
Demikian
harapan kami semoga hasil pengkajian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.Dan menambah
referensi yang baru sekaligus ilmu pengetahuan yang baru pula.Kritik
dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini di
kemudian hari.
MALANG, 12 September
2015
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL i
KATA
PENGANTAR ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan Penulisan Makalah
1.4.Kajian Teoritis
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Asal Mula Budaya Lokal Nyethe di
Daerah Tulungagung
2.2. Kegiatan Yang Dilakukan Pada Waktu Nyethe
2.3. Pengaruh Nyethe Terhadap
Proses Interaksi Sosial Masyarakat
2.4. Pengaruh Nyethe Terhadap Pembentukan Komunitas Baru
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Kritik
dan Saran
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
A. PENDAHULUAN
Di dalam masyarakat Tulungagung, terdapat sebuah kebiasaan yang cukup
Unik
yaitu nyethe. Nyethe adalah
suatu
kebiasaan menggambar atau melukis
di atas
rokok dengan menggunakan media endapan kopi (dalam bahasa jawa:
(cethe). Kebiasaan ini dilakukan para perokok di warung-warung kopi
Khususnya warung yang menyediakan kopi khusus untuk nyethe. Kebiasaan
ini
Sudah
membudaya di
kalangan masyarakat perokok di
Tulungagung.
Berpijak dari uraian diatas,
timbul suatu permasalahan sosial di masyarakat
bahwa telah terbentuk suatu kebiasaan baru yang kontroversial di masyarakat
karena
ada berbagai pihak yang membuat generalisasi bahwa kebiasaan tersebut
merupakan kegiatan
yang membuang-buang waktu. Disisi lain,
ada pihak yang
menolak asumsi
negatif tersebut.
Mereka menganggap bahwa nyethe bukan
termasuk kegiatan yang membuang-buang waktu.
Oleh karena itu, perlu
dilakukan
penelitian untuk memperoleh
gambaran
objektif dan komprehensif
mengenai hal di atas dan bagaimana permasalahan
tersebut ditinjau
dari sudut
pandang
sosial budaya.
B.RUMUSAN
MASALAH
Bertolak dari asumsi negatif dari masyarakat
tersebut, dapat dirumuskan masalah yang dibahas dalam artikel ini yaitu:
1.
Bagaimana
asal mula budaya lokal nyethe di
daerah Tulungagung ?
2. Kegiatan apa saja yang dilakukan
pada waktu nyethe ?
3.
Bagaimana pengaruh
kebiasaan nyethe terhadap proses interaksi sosial masyarakat
?
4. Bagaimana dampak
kegiatan nyethe terhadap pembentukan
komunitas baru di masyarakat Tulungagung ?
C.TUJUAN
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui
pengaruh kebiasaan nyethe terhadap kehidupan
sosial masyarakat di Kabupaten
Tulungagung, Jawa Timur.
Adapun tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
1.
Mendiskripsikan
kegiatan apa
saja
yang dilaksanakan pada saat
nyethe
2.
Mendiskripsikan
pengaruh kebiasaan nyethe terhadap
proses interaksi sosial masyarakat
3.
Mendiskripsikan
dampak
kegiatan nyethe terhadap proses pembentukan
komunitas baru di masyarakat.
Dari hasil pembahasan ini diharapkan dapat meluruskan asumsi negatif
dari masyarakat sehinga masyarakat
sadar bahwa nyethe merupakan
salah satu bentuk interaksi sosial yang bermanfaat.
D.KAJIAN
TEORITIS
o
Nyethe khas Kabupaten Tulungagung:
Nyethe
adalah sebuah kegiatan menggambar atau melukis di atas rokok dengan
menggunakan media endapan kopi yang dalam bahasa Jawa disebut dengan cethe.
Karena itulah kegian ini disebut dengan nyethe. Berdasarkan cerita dari mulut
ke mulut, kebiasaan nyethe ini sebenarnya dimulai oleh para petani yang
kehabisan wedang kopi ketika sedang istirahat selepas bekerja di sawah. Istri
yang biasanya mengirim makan dan wedang kopi ke sawah untuk petani. Jika
kemudian kopi yang dikirim tersebut telah habis padahal masih belum puas ngopi,
maka kemudian para petani mengoles-oleskan cethe atau endapan kopi tersebut ke
rokok dan kemudian merokoknya. Ada juga yang berpendapat asal mula cethe
bermula ketika para petani selesai bekerja dari sawah, kebiasaan mereka akan
mampir di warung untuk ngopi dan bertemu dengan sesama petani lain untuk
sekedar bercengkerama maupun mendiskusikan hal-hal seputar pertanian mereka.
Sambil ngopi dan ngobrol, sesekali rokok yang di hisap diolesi dengan endapan
kopi yang ada di cawan. Kopinya pun tidak sehalus yang ada seperti sekarang ini
atau masih kasar. Endapan kopi yang dicethekan ke rokok dan terbakar
menimbulkan sensasi tersendiri. Hal ini menambah nikmatnya ngopi sambil ngobrol
di warung kopi. Kedua cerita diatas dianggap sebagai awal mula yang menjadikan
nyethe sebagai khas dari Kabupatan Tulungagung yang sampai saat ini masih tetap
ada dan telah menjadi kabiasaan. Awalnya, nyethe dikenal hanya di daerah Tulungagung,
Jawa Timur saja. Kemudian kebiasaan ini ternyata merambat ke daerah lain
semisal di Malang, Kediri, Surabaya dan kota-kota lain. Yang menyebabkan
kegiatan nyethe ini pun sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di luar
Kabupaten Tulungagung. Bahkan banyak yang mengira kegiatan tersebut tidak
berasal dari Tulungagung karena banyaknya warung kopi di luar Kabupaten
Tulungagung.
Pada perkembangannya saat ini, nyethe tidak hanya
dilakukan ketika kopi sudah habis dan di gelas hanya tersisa cethe nya saja.
Namun secangkir wedang kopi panas sengaja dituang ke lepek atau pengalas gelas.
Beberapa menit kemudian, air di pengalas gelas tersebut dikembalikan lagi ke
cangkir. Jika cethe masih terlalu basah, beberapa lembar guntingan kertas koran
berbentuk segi empat diletakkan di atasnya, untuk menyerap air. Cethe cokelat
kehitaman yang terlihat jelas inilah yang kemudian dioles-oleskan ke batang
rokok yang akan diisap. Dan di dapatlah cethe, untuk kemudian nyethe.
Orang-orang yang sering nyethe berpendapat dengan di cethe, rasa rokok dinilai
lebih enak dan beraroma memikat. Selain memberikan aroma lebih segar, cethe
juga diyakini membuat rokok lebih awet, tidak cepat habis, dan terasa lebih
nikmat.
Banyaknya pekerja wiraswasta di Tulungagung semakin
mendukung banyaknya para penjual warung kopi di kota ini. Menurut data dari
PEMKAB Tulungagung sekarang ini jumlah warung cethe mencapai 1700 warung. Saat
ini sudah dikenal luas warung nyethe, warung yang menyediakan diri khusus untuk
keperluan ini. Diantaranya adalah warkop Waris dan
Mak Tin, warkop Pak Sigit, di belakang lapangan pasar pahing, warkop Pak Yani,
dan warkop sor trembesi. Harga segelas kopi cethe pun sangat murah, hanya Rp
1500,-. Pemilik warung menyediakan cethe dalam lepek-lepek untuk
memudahkan para pen-cethe. Sehingga pengunjung tinggal mengoles cethe ke batang
rokoknya. Para penyethe pun mengoleskan cethe ke batang rokok bagaikan sedang
membatik dengan aneka motif, mulai dari bentuk garis-garis, melingkar,
kupu-kupu, batik hingga hitam kelam. Agar ampas kopi yang diambil bagus, maka
harus dipastikan ampas halus yang tertinggal di atas lepek sudah didiamkan
beberapa saat. Tujuannya agar ampas kopi tadi mengental tanpa air. Penjual
harus memakai kopi bubuk yang halus dan terkadang diberi susu agar tingkat
kelengketan lukisan bagus. Sedangkan alat lukisnya adalah dari batang korek api
sendiri. Nyethe sangat membutuhkan ketelitian, selain itu nyethe juga melatih
kesabaran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Asal Mula Budaya Lokal Nyethe di Daerah Tulungagung
Kebiasaan nyethe ini sebenarnya dimulai oleh para petani yang kehabisan wedang kopi ketika sedang istirahat selepas bekerja di sawah. Istri yang biasanya mengirim makan dan wedang kopi ke sawah untuk petani. Jika kemudian kopi yang dikirim tersebut telah habis padahal masih belum puas ngopi, maka kemudian para petani mengoles-oleskan cethe atau endapan kopi tersebut ke rokok dan kemudian merokoknya. Ada juga yang berpendapat asal mula cethe bermula ketika para petani selesai bekerja dari sawah, kebiasaan mereka akan mampir di warung untuk ngopi dan bertemu dengan sesama petani lain untuk sekedar bercengkerama maupun mendiskusikan hal-hal seputar pertanian mereka. Sambil ngopi dan ngobrol, sesekali rokok yang di hisap diolesi dengan endapan kopi yang ada di cawan. Kopinya pun tidak sehalus yang ada seperti sekarang ini atau masih kasar karena masih ditumbuk secara tradisional. Endapan kopi yang dicethekan ke rokok dan terbakar menimbulkan sensasi tersendiri. Hal ini menambah nikmatnya ngopi sambil ngobrol di warung kopi. Kedua cerita diatas dianggap sebagai awal mula yang menjadikan nyethe sebagai khas dari Kabupatan Tulungagung yang sampai saat ini masih tetap ada dan telah menjadi kabiasaan. Awalnya, nyethe dikenal hanya di daerah Tulungagung, Jawa Timur saja. Kemudian kebiasaan ini ternyata merambat ke daerah lain semisal di Malang, Kediri, Surabaya dan kota-kota lain. Yang menyebabkan kegiatan nyethe ini pun sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di luar Kabupaten Tulungagung. Bahkan banyak yang mengira kegiatan tersebut tidak berasal dari Tulungagung karena banyaknya warung kopi di luar Kabupaten Tulungagung. Pada perkembangannya saat ini, kopi yang digunakan untuk nyethe ini memakai bubuk kopi yang sangat halus. Untuk merekatkan endapan kopi yang halus tersebut ke rokok, ditambahkan sedikit susu cair. Biasanya rokok yang di cethe membentuk motif. Motifnya pun macam – macam, mulai sulur, tulisan, tribal, garis –garis, melingkar, kupu – kupu, batik, bahkan tokoh pewayangan juga bisa di cethe di rokok. Hasilnya sangat unik. Sehingga nyethe bisa juga disebut seni batik rokok. Sampai saat ini di daerah Tulungagung kegiatan nyethe dijadikan sebagai suatu ajang perlombaan atau kompetisi. Orang-orang yang sering nyethe berpendapat dengan di cethe, rasa rokok dinilai lebih enak dan beraroma memikat. Selain memberikan aroma lebih segar, cethe juga diyakini membuat rokok lebih awet, tidak cepat habis, dan terasa lebih nikmat.
Kebiasaan nyethe ini sebenarnya dimulai oleh para petani yang kehabisan wedang kopi ketika sedang istirahat selepas bekerja di sawah. Istri yang biasanya mengirim makan dan wedang kopi ke sawah untuk petani. Jika kemudian kopi yang dikirim tersebut telah habis padahal masih belum puas ngopi, maka kemudian para petani mengoles-oleskan cethe atau endapan kopi tersebut ke rokok dan kemudian merokoknya. Ada juga yang berpendapat asal mula cethe bermula ketika para petani selesai bekerja dari sawah, kebiasaan mereka akan mampir di warung untuk ngopi dan bertemu dengan sesama petani lain untuk sekedar bercengkerama maupun mendiskusikan hal-hal seputar pertanian mereka. Sambil ngopi dan ngobrol, sesekali rokok yang di hisap diolesi dengan endapan kopi yang ada di cawan. Kopinya pun tidak sehalus yang ada seperti sekarang ini atau masih kasar karena masih ditumbuk secara tradisional. Endapan kopi yang dicethekan ke rokok dan terbakar menimbulkan sensasi tersendiri. Hal ini menambah nikmatnya ngopi sambil ngobrol di warung kopi. Kedua cerita diatas dianggap sebagai awal mula yang menjadikan nyethe sebagai khas dari Kabupatan Tulungagung yang sampai saat ini masih tetap ada dan telah menjadi kabiasaan. Awalnya, nyethe dikenal hanya di daerah Tulungagung, Jawa Timur saja. Kemudian kebiasaan ini ternyata merambat ke daerah lain semisal di Malang, Kediri, Surabaya dan kota-kota lain. Yang menyebabkan kegiatan nyethe ini pun sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di luar Kabupaten Tulungagung. Bahkan banyak yang mengira kegiatan tersebut tidak berasal dari Tulungagung karena banyaknya warung kopi di luar Kabupaten Tulungagung. Pada perkembangannya saat ini, kopi yang digunakan untuk nyethe ini memakai bubuk kopi yang sangat halus. Untuk merekatkan endapan kopi yang halus tersebut ke rokok, ditambahkan sedikit susu cair. Biasanya rokok yang di cethe membentuk motif. Motifnya pun macam – macam, mulai sulur, tulisan, tribal, garis –garis, melingkar, kupu – kupu, batik, bahkan tokoh pewayangan juga bisa di cethe di rokok. Hasilnya sangat unik. Sehingga nyethe bisa juga disebut seni batik rokok. Sampai saat ini di daerah Tulungagung kegiatan nyethe dijadikan sebagai suatu ajang perlombaan atau kompetisi. Orang-orang yang sering nyethe berpendapat dengan di cethe, rasa rokok dinilai lebih enak dan beraroma memikat. Selain memberikan aroma lebih segar, cethe juga diyakini membuat rokok lebih awet, tidak cepat habis, dan terasa lebih nikmat.
2.2. Kegiatan Yang Dilakukan Pada Waktu Nyethe
Kegiatan yang dilakukan pada saat waktu nyethe meliputi
merokok, minum kopi, ngobrol,
duduk-duduk santai, dan melukis pada rokok. Para pengunjung
warung
cethe
terdiri dari
berbagai lapisan
masyarakat mulai dari pelajar, anak muda, wirausahawan, penganguran dan sebagainya. Pengunjung biasanya datang ke
warung
bersama teman, jarang sekali datang sendiri tanpa
teman, pengunjung biasanya duduk
berkelompok dua sampai lima
orang
atau
lebih,
dalam satu kali kunjung ke warung, pengunjung biasanya
menghabiskan waktu dua sampai lima jam untuk nyethe; biasannya topik yang dibicarakan pada saat ngobrol
sangat bervariasi,
tergantung subyek yang membicarakanya, mulai
dari hal-hal yang bersifat ringan dan tidak serius
sampai hal-hal yang bersifat
serius,
misalnya tentang pacar, jual
beli motor,
negosiasi harga handphone, masalah isu-isu di masyarakat
yang sedang marak,
tentang berita di televisi, mengenai even-even terdekat yang akan diikuti,
tentang keluarga, mengenai pertandingan sepak bola, masalah isu-isu
politik dan lain
sebagainya. Hal ini menunjukan
bahwa nyethe juga bisa digunakan sebagai media untuk melakukan
hal-hal yang penting
dan berguna, tidak selalu membuang-buang
waktu.
2.3. Pengaruh Nyethe Terhadap
Proses Interaksi Sosial Masyarakat
Pengaruh
nyethe terhadap proses interaksi sosial masyarakat ialah menjadikan pengunjung ( para pencethe) yang berasal
dari berbagai lapisan, baik dari kalangan tua maupun muda, berbaur menjadi satu. Mereka saling akrab dan tidak
membedakan golongan tua maupun muda, kaya maupun miskin.
2.4. Pengaruh Nyethe Terhadap Pembentukan Komunitas Baru
Individu tidak dapat dilepaskan dari situasi dimana ia berada dan situasi ini
sangat berpengaruh terhadap
kelompok yang terbentuk akibat
situasi tersebut (Santosa, 1992). Pengunjung warung cethe sebagai individu juga tidak terlepas
dari situasi warung dimana ia sedang berada. Karena terdapat beberapa pengunjung dalam satu tempat yang melakukan
hal yang sama yaitu nyethe maka
terciptalah suatu situasi
nyethe yang selanjutnya membentuk
kelompok atau komunitas dalam satu
tempat tersebut. Santosa (1992) menyatakan
bahwa situasi
yang dihadapi individu
dalam kelompok dapat dibagi menjadi dua, yaitu situasi kelompok sosial dan situasi kebersamaan. Situasi kelompok sosial didefinisikan sebagai
suatu situasi dimana
terdapat dua individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang mendalam satu sama lain. Sedangkan situasi kebersamaan artinya suatu situasi dimana berkumpul
sekumpulan individu secara bersama sama. Berdasarkan definisi tersebut, situasi nyethe dapat dikategorikan
sebagai
situasi
kebersamaan. Situasi kebersamaan dapat
menciptakan kelompok
kebersamaan yakni suatu kelompok individu
yang berkumpul pada suatu ruang dan waktu yang sama, tumbuh dan mengarahkan
tingkah laku secara spontan
(Kinch, 1983) (dalam
Santoso, 1992). Kelompok
kebersamaan memiliki ciri-ciri: bertanggung jawab dalam waktu yang relatif
pendek,para pesertanya berhubungan secara fisik, kurang adanya aturan yang
terorganisir, dan interaksinya bersifat spontan
(Santosa, 1992). Berdasarkan ciri- ciri tersebut, nyete
juga bisa dikatakan sebagai kelompok kebersamaan yan terbentuk dari situasi kebersamaan sebagai
implikasi interaksi sosial yang terjadi
dalam aktivitas nyethe.
Kelompok kebersamaan yang terbentuk dalam aktivitas nyethe
selanjutnya secara jangka panjang
dapat membentuk suatu
komunitas baru di
masyarakat Tulungagung yaitu
komunitas cethe
mania.Hal ini terbukti
dengan data hasil penelitian yang menyatakan
bahwa sering diadakanya kegiatan-kegiatan
yang berusaha
mengumpulkan dan mewadahi kreatifitas para pelaku nyethe,
misalnya
lomba nyethe atau nyethe competition se-kabupaten Tulungagung.
Karena nyethe
sudah menjadi
kebiasaan
para perokok khususnya di daerah Tulungagung,
maka
nyethe bisa dikatakan sebagai budaya
perokok
di
daerah Tulungagung. Hal ini sesuai dengan
definisi budaya. Culture is the informal
and often hidden patterns of human interactions, viewpoints, and
expressions that
people share (Mutmainah, 2005). Budaya
merupakan bentuk- bentuk tersembunyi dan informal dari interaksi,
pandangan dan ekpresi manusia. Dari definisi tersebut, diketahui
bahwa nyethe termasuk budaya yang mempunyai unsur ekspresi, interaksi,
dan kebiasaan yang dilakukan secara umum
dan berulang-ulang di masyarakat Tulungagung khususnya masyarakat perokok.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa asumsi negatif dari masyarakat yang menganggap nyethe
adalah aktivitas yang membuang-buang
waktu tidak selalu benar.
Hal ini terbukti dengan adanya data hasil penelitian yang menunjukan bahwa
kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada waktu nyethe bervariasi dan hanya sedikit yang mengandung unsur membuang-buang waktu. Bahkan ada yang menganggap
nyethe mempunyai
unsur seni. Membuang-buang
waktu atau tidaknya kegiatan nyethe sangat bergantung pada
subyek pelaku nyethe itu
sendiri, apakah mereka memanfaatkan
nyethe untuk hal-hal yang berguna atau tidak.
Dipandang dari segi sosial budaya dan kemasyarakatan, nyethe merupakan cikal bakal terbentuknya suatu interaksi sosial
yang lebih bersifat positif.
Dari interaksi sosial tersebut selanjutnya
terbentuk komunitas
baru di masyarakat Tulungagung yang secara
langsung maupun tidak langsung
menciptakan budaya baru di kalangan masyarakat perokok di daerah Tulungagung.
B. SARAN
SARAN
1.
Dengan di buatnya makalah ini di harapkan supaya bisa
menambah pengetahuan khususnya yang buat makalah.
2.
Supaya masyarakat tidak beramsumsi menganggap nyethe
itu aktivitas membuang – buang waktu .
3.
Kritik dan saran dari pembaca sangat
diharapkan demi kesempurnaan penulisan makalah di kemudian hari
DAFTAR
PUSTAKA
Bodgan,
Robert C. & Biklen, Sarri Krop.
(1982).
Qualitative
Research for Education: An Introduction to Theory and Methods, Toronto,
Allyn & Bacon, Inc.
Denzin, Norman K. & Lincoln, Yvonna S. (1994).
Handbook
of
Qualitative
Research, California, Sage
Publication.
Latief, Mohamad Adnan. (1999). Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Forum
Penelitian Kependidikan, 2, 112.
Mutmainah, Siti Nurul. (2005).
Cross Cultural Understanding, Malang, English
Department UM.
Santoso, Slamet. (1992). Dinamika Kelompok, Jakarta, Bumi Aksara