Minggu, 04 Oktober 2015

PENGARUH KEBIASAAN NYETHE TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT DI KABUPATEN TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR



MAKALAH SOSBUD

PENGARUH KEBIASAAN NYETHE TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT DI KABUPATEN TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR

Image result for um malang

 Disunsun Oleh       : MOHAMMAD PEBRIANTO
NIM                         : 150751600312
PROD/OFF              : PENDIDIKAN SOSIOLOGI / A

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
PENDIDIKAN SOSIOLOGI
MALANG
2015


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah Subhanahu wa Ta’alayang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini pada waktunya. Walaupun hasilnya masih jauh dari apa yang menjadi harapan Bapak Dosen, namun sebagai awal pembelajaran dan agar menambah semangat dalam mencari pengetahuan yang luas dilapangan,  bukan sebuah kesalahan jika kami mengucapkan kata syukur.
Terima kasih kami ucapkan kepada dosen Pengantar Sosiologi yang telah memberikan arahan terkait makalah ini. Tanpa bimbingan dari beliau mungkin kami tidak akan dapat menyelesaikan tugas ini sesuai dengan format yang berlaku. Kesalahan yang terdapat di dalam jelas ada. Namun bukanlah kesalahan yang tersengaja melainkan karena kekhilafan. Dari semua kelemahan kami kira-nya dapat dimaklumi.Sehingga ini juga menjadi pembelajaran bagi kami untuk mengerjakan tugas-tugas selanjutnya.
Terima kasih kami ucapkan pula kepada teman-teman yang telah memberikan  banyak saran dan pengetahuannya sehingga menambah hal baru bagi kami. Terutama dalam hal materil berupa referensi mengenai pengaruh bahasa gaul terhadap norma dalam masyarakat.
Demikian harapan kami semoga hasil pengkajian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.Dan menambah referensi yang baru sekaligus ilmu pengetahuan yang baru  pula.Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini di kemudian hari.
MALANG, 12  September 2015


               
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL      i
KATA PENGANTAR    ii
DAFTAR ISI                   iii
BAB I  PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan Penulisan Makalah
1.4.Kajian Teoritis
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Asal Mula Budaya Lokal Nyethe di Daerah Tulungagung

2.2. Kegiatan Yang Dilakukan Pada Waktu Nyethe

 2.3. Pengaruh Nyethe Terhadap Proses Interaksi Sosial Masyarakat

2.4. Pengaruh Nyethe Terhadap Pembentukan Komunitas Baru

 
BAB III  PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Kritik dan Saran
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

A.    PENDAHULUAN

          Di dalam masyarakat Tulungagung, terdapat sebuah kebiasaan yang cukup
Unik yaitu  nyethe. Nyethe adalah   suatu kebiasaan menggambar atau melukis
di atas rokok dengan menggunakan media endapan kopi (dalam bahasa jawa:
(cethe). Kebiasaan ini dilakukan para perokok di warung-warung kopi
Khususnya warung yang menyediakan kopi khusus untuk nyethe. Kebiasaan ini
Sudah membudaya di kalangan masyarakat perokok di Tulungagung.
          Berpijak dari uraian diatas, timbul suatu permasalahan sosial di masyarakat
bahwa telah terbentuk suatu kebiasaan baru yang kontroversial di masyarakat 
karena ada berbagai pihak yang membuat generalisasi bahwa kebiasaan tersebut
merupakan kegiatan yang membuang-buang waktu. Disisi lain, ada pihak yang
menolak asumsi  negatif tersebut. Mereka menganggap bahwa nyethe bukan
termasuk kegiatan yang membuang-buang waktu. Oleh karena itu, perlu
dilakukan penelitian untuk memperoleh gambaran objektif dan komprehensif
mengenai hal di atas dan bagaimana permasalahan tersebut ditinjau dari sudut
pandang sosial budaya.






B.RUMUSAN MASALAH
            Bertolak dari asumsi negatif dari masyarakat tersebut, dapat dirumuskan masalah yang dibahas dalam artikel ini yaitu:
1.      Bagaimana asal mula budaya lokal nyethe di daerah Tulungagung ?
2.  Kegiatan apa saja yang dilakukan pada waktu nyethe ?
3.    Bagaimana pengaruh kebiasaan nyethe terhadap proses interaksi  sosial  masyarakat ?
4.      Bagaimana  dampak kegiatan  nyethe  terhadap pembentukan komunitas baru di masyarakat Tulungagung  ?

C.TUJUAN
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui pengaruh kebiasaan nyethe terhadap kehidupan sosial masyarakat di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Adapun tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut:  
1.      Mendiskripsikan kegiatan  apa  saja  yang  dilaksanakan  pada  saat  nyethe
2.      Mendiskripsikan pengaruh  kebiasaan  nyethe  terhadap   proses  interaksi  sosial  masyarakat
3.      Mendiskripsikan dampak kegiatan nyethe terhadap proses pembentukan komunitas baru di masyarakat. Dari hasil pembahasan ini diharapkan dapat meluruskan asumsi negatif dari masyarakat sehinga masyarakat sadar bahwa nyethe merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang bermanfaat.



D.KAJIAN TEORITIS
o   Nyethe khas Kabupaten Tulungagung:
            Nyethe adalah sebuah kegiatan menggambar atau melukis di atas rokok dengan  menggunakan media endapan kopi yang dalam bahasa Jawa disebut dengan cethe. Karena itulah kegian ini disebut dengan nyethe. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, kebiasaan nyethe ini sebenarnya dimulai oleh para petani yang kehabisan wedang kopi ketika sedang istirahat selepas bekerja di sawah. Istri yang biasanya mengirim makan dan wedang kopi ke sawah untuk petani. Jika kemudian kopi yang dikirim tersebut telah habis padahal masih belum puas ngopi, maka kemudian para petani mengoles-oleskan cethe atau endapan kopi tersebut ke rokok dan kemudian merokoknya. Ada juga yang berpendapat asal mula cethe bermula ketika para petani selesai bekerja dari sawah, kebiasaan mereka akan mampir di warung untuk ngopi dan bertemu dengan sesama petani lain untuk sekedar bercengkerama maupun mendiskusikan hal-hal seputar pertanian mereka. Sambil ngopi dan ngobrol, sesekali rokok yang di hisap diolesi dengan endapan kopi yang ada di cawan. Kopinya pun tidak sehalus yang ada seperti sekarang ini atau masih kasar. Endapan kopi yang dicethekan ke rokok dan terbakar menimbulkan sensasi tersendiri. Hal ini menambah nikmatnya ngopi sambil ngobrol di warung kopi. Kedua cerita diatas dianggap sebagai awal mula yang menjadikan nyethe sebagai khas dari Kabupatan Tulungagung yang sampai saat ini masih tetap ada dan telah menjadi kabiasaan. Awalnya, nyethe dikenal hanya di daerah Tulungagung, Jawa Timur saja. Kemudian kebiasaan ini ternyata merambat ke daerah lain semisal di Malang, Kediri, Surabaya dan kota-kota lain. Yang menyebabkan kegiatan nyethe ini pun sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di luar Kabupaten Tulungagung. Bahkan banyak yang mengira kegiatan tersebut tidak berasal dari Tulungagung karena banyaknya warung kopi di luar Kabupaten Tulungagung.
            Pada perkembangannya saat ini, nyethe tidak hanya dilakukan ketika kopi sudah habis dan di gelas hanya tersisa cethe nya saja. Namun secangkir wedang kopi panas sengaja dituang ke lepek atau pengalas gelas. Beberapa menit kemudian, air di pengalas gelas tersebut dikembalikan lagi ke cangkir. Jika cethe masih terlalu basah, beberapa lembar guntingan kertas koran berbentuk segi empat diletakkan di atasnya, untuk menyerap air. Cethe cokelat kehitaman yang terlihat jelas inilah yang kemudian dioles-oleskan ke batang rokok yang akan diisap. Dan di dapatlah cethe, untuk kemudian nyethe. Orang-orang yang sering nyethe berpendapat dengan di cethe, rasa rokok dinilai lebih enak dan beraroma memikat. Selain memberikan aroma lebih segar, cethe juga diyakini membuat rokok lebih awet, tidak cepat habis, dan terasa lebih nikmat.
            Banyaknya pekerja wiraswasta di Tulungagung semakin mendukung banyaknya para penjual warung kopi di kota ini. Menurut data dari PEMKAB Tulungagung sekarang ini jumlah warung cethe mencapai 1700 warung. Saat ini sudah dikenal luas warung nyethe, warung yang menyediakan diri khusus untuk keperluan ini. Diantaranya adalah warkop Waris dan Mak Tin, warkop Pak Sigit, di belakang lapangan pasar pahing, warkop Pak Yani, dan warkop sor trembesi. Harga segelas kopi cethe pun sangat murah, hanya Rp 1500,-. Pemilik warung menyediakan cethe dalam lepek-lepek untuk memudahkan para pen-cethe. Sehingga pengunjung tinggal mengoles cethe ke batang rokoknya. Para penyethe pun mengoleskan cethe ke batang rokok bagaikan sedang membatik dengan aneka motif, mulai dari bentuk garis-garis, melingkar, kupu-kupu, batik hingga hitam kelam. Agar ampas kopi yang diambil bagus, maka harus dipastikan ampas halus yang tertinggal di atas lepek sudah didiamkan beberapa saat. Tujuannya agar ampas kopi tadi mengental tanpa air. Penjual harus memakai kopi bubuk yang halus dan terkadang diberi susu agar tingkat kelengketan lukisan bagus. Sedangkan alat lukisnya adalah dari batang korek api sendiri. Nyethe sangat membutuhkan ketelitian, selain itu nyethe juga melatih kesabaran.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Asal Mula Budaya Lokal Nyethe di Daerah Tulungagung
                Kebiasaan nyethe ini sebenarnya dimulai oleh para petani yang kehabisan wedang kopi ketika sedang istirahat selepas bekerja di sawah. Istri yang biasanya mengirim makan dan wedang kopi ke sawah untuk petani. Jika kemudian kopi yang dikirim tersebut telah habis padahal masih belum puas ngopi, maka kemudian para petani mengoles-oleskan cethe atau endapan kopi tersebut ke rokok dan kemudian merokoknya. Ada juga yang berpendapat asal mula cethe bermula ketika para petani selesai bekerja dari sawah, kebiasaan mereka akan mampir di warung untuk ngopi dan bertemu dengan sesama petani lain untuk sekedar bercengkerama maupun mendiskusikan hal-hal seputar pertanian mereka. Sambil ngopi dan ngobrol, sesekali rokok yang di hisap diolesi dengan endapan kopi yang ada di cawan. Kopinya pun tidak sehalus yang ada seperti sekarang ini atau masih kasar karena masih ditumbuk secara tradisional. Endapan kopi yang dicethekan ke rokok dan terbakar menimbulkan sensasi tersendiri. Hal ini menambah nikmatnya ngopi sambil ngobrol di warung kopi. Kedua cerita diatas dianggap sebagai awal mula yang menjadikan nyethe sebagai khas dari Kabupatan Tulungagung yang sampai saat ini masih tetap ada dan telah menjadi kabiasaan. Awalnya, nyethe dikenal hanya di daerah Tulungagung, Jawa Timur saja. Kemudian kebiasaan ini ternyata merambat ke daerah lain semisal di Malang, Kediri, Surabaya dan kota-kota lain. Yang menyebabkan kegiatan nyethe ini pun sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di luar Kabupaten Tulungagung. Bahkan banyak yang mengira kegiatan tersebut tidak berasal dari Tulungagung karena banyaknya warung kopi di luar Kabupaten Tulungagung. Pada perkembangannya saat ini, kopi yang digunakan untuk nyethe ini memakai bubuk kopi yang sangat halus. Untuk merekatkan endapan kopi yang halus tersebut ke rokok, ditambahkan sedikit susu cair. Biasanya rokok yang di cethe membentuk motif. Motifnya pun macam – macam, mulai sulur, tulisan, tribal, garis –garis, melingkar, kupu – kupu, batik, bahkan tokoh pewayangan juga bisa di cethe di rokok. Hasilnya sangat unik. Sehingga nyethe bisa juga disebut seni batik rokok. Sampai saat ini di daerah Tulungagung kegiatan nyethe dijadikan sebagai suatu ajang perlombaan atau kompetisi. Orang-orang yang sering nyethe berpendapat dengan di cethe, rasa rokok dinilai lebih enak dan beraroma memikat. Selain memberikan aroma lebih segar, cethe juga diyakini membuat rokok lebih awet, tidak cepat habis, dan terasa lebih nikmat.
2.2. Kegiatan Yang Dilakukan Pada Waktu Nyethe
            Kegiatan yang dilakukan pada saat waktu nyethe meliputi merokok, minum kopi, ngobrol, duduk-duduk santai, dan melukis pada  rokok. Para  pengunjung  warung  cethe  terdiri  dari  berbagai  lapisan masyarakat  mulai  dari  pelajar,  anak  muda,  wirausahawan,  penganguran  dan sebagainya. Pengunjung biasanya datang ke  warung  bersama teman, jarang sekali datang sendiri tanpa teman, pengunjung biasanya duduk berkelompok dua  sampai  lima  orang  atau  lebih, dalam  satu  kali  kunjung  ke  warung, pengunjung biasanya menghabiskan waktu dua sampai lima jam untuk nyethe; biasannya topik yang dibicarakan pada saat ngobrol sangat bervariasi, tergantung subyek yang  membicarakanya, mulai dari hal-hal yang bersifat ringan dan tidak serius sampai  hal-hal  yang  bersifat  serius,  misalnya  tentang  pacar,  jual  beli  motor, negosiasi harga handphone, masalah  isu-isu di masyarakat yang sedang marak, tentang berita di televisi, mengenai even-even terdekat yang akan diikuti, tentang keluarga, mengenai pertandingan sepak bola, masalah isu-isu  politik dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa nyethe juga bisa digunakan sebagai media untuk melakukan hal-hal yang penting dan berguna, tidak selalu membuang-buang waktu.

2.3. Pengaruh Nyethe Terhadap Proses Interaksi Sosial Masyarakat
            Pengaruh nyethe terhadap proses interaksi sosial masyarakat ialah menjadikan    pengunjung ( para pencethe) yang berasal dari berbagai lapisan, baik dari kalangan tua maupun muda, berbaur menjadi satu. Mereka saling akrab dan  tidak membedakan golongan tua maupun muda, kaya maupun miskin.
2.4. Pengaruh Nyethe Terhadap Pembentukan Komunitas Baru
            Individu tidak dapat dilepaskan dari situasi dimana ia  berada dan situasi ini sangat berpengaruh terhadap kelompok yang terbentuk akibat situasi tersebut (Santosa, 1992).  Pengunjung warung cethe sebagai individu juga tidak terlepas dari situasi   warung dimana ia sedang berada. Karena terdapat beberapa pengunjung dalam satu tempat yang melakukan hal yang sama yaitu nyethe maka terciptalah  suatu  situasi  nyethe yang selanjutnya membentuk kelompok atau komunitas dalam satu tempat tersebut. Santosa (1992) menyatakan  bahwa situasi yang dihadapi individu dalam kelompok  dapat dibagi menjadi dua, yaitu situasi kelompok sosial dan situasi kebersamaan. Situasi kelompok sosial didefinisikan sebagai suatu situasi dimana terdapat dua individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang mendalam satu sama lain. Sedangkan situasi kebersamaan artinya suatu situasi dimana berkumpul sekumpulan individu secara  bersama sama. Berdasarkan definisi tersebut, situasi nyethe  dapat  dikategorikan  sebagai  situasi  kebersamaan. Situasi  kebersamaan dapat menciptakan kelompok kebersamaan yakni suatu kelompok individu yang berkumpul pada suatu ruang dan waktu yang sama, tumbuh dan mengarahkan tingkah laku secara spontan (Kinch, 1983) (dalam Santoso, 1992). Kelompok kebersamaan memiliki ciri-ciri:  bertanggung  jawab dalam waktu yang relatif pendek,para pesertanya berhubungan secara fisik, kurang adanya aturan yang terorganisir, dan interaksinya bersifat spontan (Santosa, 1992). Berdasarkan ciri- ciri tersebut, nyete juga bisa dikatakan sebagai kelompok  kebersamaan yan terbentuk dari situasi kebersamaan sebagai implikasi interaksi sosial yang terjadi dalam aktivitas nyethe.
            Kelompok  kebersamaan yang terbentuk dalam aktivitas nyethe selanjutnya secara jangka panjang dapat membentuk suatu komunitas baru di masyarakat  Tulungagung yaitu komunitas cethe mania.Hal ini terbukti dengan data hasil penelitian yang menyatakan bahwa sering diadakanya kegiatan-kegiatan yang  berusaha mengumpulkan dan mewadahi kreatifitas para pelaku nyethe, misalnya lomba nyethe atau nyethe competition  se-kabupaten Tulungagung. Karena nyethe sudah  menjadi  kebiasaan para perokok  khususnya  di daerah  Tulungagung,  maka  nyethe bisa  dikatakan sebagai  budaya  perokok  di daerah  Tulungagung.  Hal ini sesuai dengan definisi budaya. Culture is the informal and often hidden patterns of human interactions,  viewpoints, and expressions  that people share (Mutmainah, 2005). Budaya merupakan bentuk- bentuk tersembunyi dan informal  dari interaksi, pandangan dan ekpresi manusia. Dari definisi tersebut, diketahui bahwa nyethe termasuk budaya yang mempunyai unsur  ekspresi,  interaksi, dan kebiasaan yang dilakukan secara umum dan berulang-ulang di masyarakat Tulungagung khususnya masyarakat perokok.


BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN
            Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa asumsi negatif dari masyarakat yang menganggap nyethe adalah aktivitas yang membuang-buang waktu tidak selalu benar. Hal ini terbukti dengan adanya data hasil penelitian yang menunjukan   bahwa   kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada waktu nyethe bervariasi dan hanya sedikit yang  mengandung unsur membuang-buang waktu. Bahkan ada yang menganggap nyethe mempunyai unsur seni. Membuang-buang waktu atau tidaknya  kegiatan  nyethe sangat bergantung  pada subyek pelaku nyethe itu sendiri,  apakah mereka memanfaatkan nyethe untuk hal-hal yang berguna atau tidak.
            Dipandang dari segi sosial budaya dan kemasyarakatan, nyethe merupakan cikal bakal  terbentuknya suatu interaksi sosial yang lebih bersifat positif. Dari interaksi  sosial  tersebut  selanjutnya  terbentuk  komunitas baru di masyarakat Tulungagung yang secara langsung maupun tidak langsung menciptakan budaya baru di kalangan masyarakat perokok di daerah Tulungagung.




B. SARAN
            SARAN
1.      Dengan di buatnya makalah ini di harapkan supaya bisa menambah pengetahuan khususnya yang buat makalah.
2.      Supaya masyarakat tidak beramsumsi menganggap nyethe itu aktivitas membuang – buang waktu .
3.      Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan penulisan makalah di kemudian hari








DAFTAR PUSTAKA
Bodgan,  Robert  C.  &  Biklen,  Sarri  Krop.  (1982).  Qualitative  Research  for Education:  An  Introduction to Theory and Methods, Toronto, Allyn & Bacon, Inc.
Denzin, Norman  K.  &  Lincoln,  Yvonna  S.  (1994).  Handbook  of  Qualitative Research, California, Sage Publication.
Latief, Mohamad Adnan. (1999). Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Forum
Penelitian Kependidikan, 2, 112.
Mutmainah, Siti Nurul. (2005). Cross Cultural Understanding, Malang, English Department UM.
Santoso, Slamet. (1992). Dinamika Kelompok, Jakarta, Bumi Aksara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar